Sabar ... lagi loading. colors outside the lines

Thursday, July 03, 2008

the limit

beberapa minggu terakhir ini, gw lagi dihimpit deadline. ke mana pun mata gw menatap seolah ada deadline di sana. di dinding kantor gw, di tumpukan buku di kamar, di inbox e-mail gw. if i hadn't know better, i'd say they're stalking me. i will report these deadlines to the police and get a restrain warrant. tapi tentunya gw gak bisa. pertama, karena nggak mungkin dapet restrain warrant buat deadline. dan kedua, karena sebenernya semua itu salah gw sendiri.

sejak gw pindah kantor, gw diterjang euphoria bahwa gw bisa melakukan apapun yang gw inginkan. segala macem yang dulu nggak bisa gw kerjain di kantor lama gw, sekarang gw bisa. termasuk kerja dengan tenggat gila sepenuh hati. for me, holiday is over. it's time to bust my ass and show the world what will happen if i mean something.

dan sekarang, 6 bulan sesudahnya, gw udah siap ngiket kaos singlet putih gw ke gagang sapu. gw berharap perang deadline gw bubar detik ini juga. nggak perlu waktu lama sebenernya sebelon gw menyadari maksud nasihat kakek nenek dan orangtua agar kita nggak serakah.

untuk bisa memenuhi deadline gw, gw rela begadang berhari-hari. jam tidur gw bahkan sampe kebalik. gw tidur jam setengah 5 pagi dan bangun jam 10. sampe kantor persis sebelum jam makan siang. kerja sampe jam 6 trus gw pulang. kerja lagi di rumah sampe jam 5 pagi. and so on for a whole straight month.

kloter pertama gw lalui dengan sukses. dan itu bikin gw makin berani bikin deadline yang makin gila. tapi kali kedua ini, gw kaput. sumbu gw melempem. gw sakit.

and that, my friends, ends everything.

gw lagging semua deadline gw. i'm expecting angry calls these weeks. dan pada dasarnya nggak ada yang bisa gw lakukan. badan gw lagi memulihkan diri dan gw nggak mungkin kerja dengan kepala nyut-nyutan dan badan yang minta dipijit sama tukang pijit tradisional profesional. i have found my limit.

ternyata gw tidak ditakdirkan untuk bekerja begadang berhari-hari. gw tidak disuratkan untuk berpikir secara kontinyu dan selalu berkubang stres. gw tidak diprogam untuk menghadap laptop 7 hari dalam seminggu. gw tidak boleh memforsir hidup gw untuk bekerja.

i was crushed. rasanya banyak banget yang masih pengen gw lakuin, tapi gak bisa. gw ngerasa dipaksa menyerah di tengah jalan. ketika orang-orang seumuran gw lagi heboh-hebohnya kerja dan ngumupulin duit, gw harus puas menjadi sedikit lebih tidak seaktif mereka.

as sad and pathetic that may sound (ditambah lagi makin jauhnya gw dari cita-cita pensiun muda), di tengah masa penyembuhan gw yang berupa tidur teratur, makan sehat, dan meditasi 10 menit sehari, gw menyadari bahwa keterbatasan gw ini juga punya arti yang lain.

gw ditakdirkan untuk tidur cukup setiap harinya. gw disuratkan untuk sesekali bengong atau melamun nggak jelas. gw diprogram untuk libur dua hari dalam seminggu. dan gw boleh banget menghabiskan waktu gw jalan ke mal, nonton bioskop, baca buku, atau shopping.

now, that versus deadline dan terkapar sakit, the option is obvious for me.

bottom line is, we all have our own limit. we will soon find out about it, the easy or the hard way. but no matter how far (or close) our limit may be, it doesn't mean that the road ends there. it means that you need to turn left or right and move on.
so far, moving on to a box of popcorn and a good movie is doing pretty good for me.

. at 1:39 PM

|