Sabar ... lagi loading. colors outside the lines

Tuesday, August 28, 2007

bossa nova in the morning

Tanteku mengutak-atik CD player yang ada di samping televisi. Ia bergumam,
"Ini gimana, sih? Kok aku lupa."

Mendengarnya, perhatianku teralihkan dari aksi aneh beberapa penyanyi Jepang di televisi.
"Mau diapain?"

"Disetel. Sambil bersih-bersih rumah."

Sebagai keponakan yang baik, aku mengecilkan volume televisi agar dia bisa berkonsentrasi.
Aku menunggu. Tanganku memangku secangkir teh hangat dengan mata menatap ke layar televisi. Seperti memperhatikan, namun sebenarnya pikiranku terbang ke tempat-tempat lain.

Sudah hampir empat bulan lamanya aku dirudung duka. Duka yang absurd kalau kata teman-temanku, pun kata sebagian dari diriku. Tapi sebagian dari diriku yang lain tetap kokoh dengan duka absurd ini. Mereduksi kemampuan berpikir rasionalku hingga mendekati nol, melahap 8 kilo berat badanku yang selama bertahun-tahun ngotot ogah meninggalkanku. Intinya, menyeret keseluruhan diriku dalam kelelahan tak berujung.

Tidur terasa hampa, bangun pun seperti tantangan. Aku melaju hanya dengan senyuman dari para sahabat, sedikit harapan yang muncul kadang kala, dan, akhir-akhir ini, setengah keping pil antidepresan dari dokter. Menyedihkan.

Aku yang dulu pasti malu melihat aku yang sekarang. Membiarkan diri berkubang kesengsaraan dan hanya bersenjatakan remote televisi untuk mengalihkan pikiran dari hal-hal menyedihkan yang kerap hinggap di kepala.

Tapi apa boleh dikata. Si bawel yang konon katanya cerdas ini, sepertinya tidak cukup cerdas untuk bangkit dari duka. Mungkin karena keras kepala, atau karena serpihan dirinya terlalu hancur untuk ditata ulang. Entah.

Tiba-tiba sebuah irama bossa nova mengalun memecahkan ketidakberadaanku. Tanteku nyengir sambil mengepalkan tangannya.
"Berhasil!"

Ia meraih sapu dan pengki lalu mulai menyapu tangga naik, ke atas. Pinggulnya yang besar bergoyang seirama lagu yang didendangkannya dengan pelan. Ada keriaan kecil di sana.

Ia terus menyapu hingga hilang dari pandanganku. Tapi dendangnya yang lirih masih terdengar.

Aku tertegun sendirian dalam ruangan. Irama bossa nova memenuhi kepalaku. Apa yang aku lakukan di sini? Melarikan diri? Dari apa? Dari kenyataan? Kenyataan tidak akan meninggalkan aku. Dia akan terus mengejar karena dialah yang nyata, bukan angan atau prasangka yang berkeliaran dalam diriku.

Aku mematikan televisi. Itu, aku sudah tahu. Yang aku belum tahu adalah bagaimana berdamai dengannya. Bagaimana bisa merengkuh kenyataan dan berjalan beriringan alih-alih berlarian menghindarinya ke sana kemari. Mungkin sebelumnya aku harus berdamai dengan diriku sendiri. Menggandeng diriku untuk menerima bahwa sebesar apa pun usaha yang sudah kita berikan, kadang hasilnya tidaklah seperti yang kita inginkan.

Kakiku beranjak dari sofa. Aku berdiri di depan televisi yang kini layarnya hanya memantulkan bayanganku sendiri.

Karena hidup ini memang tidak adil, Putskih.

Kakiku yang diam mulai melangkah kecil ke kanan, lalu ke kiri. Mengayun mengikuti irama bossa nova lagu What Do You Get When You Falling in Love. Aku menyesap teh hangatku.

Saat itu akan tiba. Ketika aku bisa berkarib dengan kenyataan sekali lagi. Entah kapan, tapi pasti. Sampai saat itu datang, aku akan tetap berusaha meraih sekejap-sekejap harapan yang menjengukku di pintu nasib.

Aku masih mengayun, memejamkan mata.

Benar kata orang, kala kita sedang berduka, hal-hal kecil dan sederhana bisa membuat kita bahagia luar biasa. Dan diam-diam aku bersyukur, dalam kedukaan ini ada irama sederhana yang bisa membuatku sedikit lebih tenang dan damai. Mungkin depresiku tidak sedalam yang kukira. Atau mungkin, aku sudah kelewat gila.

. at 10:12 AM

|