siput is a devout computer potato. not a morning person. enjoys a wide range of anime, manga, & books. often caught coloring her
life right outside the lines.
kind: book
genre: poetry
penerbit: faber & faber
jilid: -
I never really like poetry books. Secara gw ga suka ada orang yang bisa jualan tulisan-tulisan sepenggal yang kadang artinya cuma dia sendiri yang ngerti, siapa pun penulisnya. Sampe gw nemu buku puisinya Tim Burton.
Pecinta karya Tim Burton akan dengan mudah menemukan ciri Burton dalam buku ini. Nuansa gelap, misfit, dan creepy bertaburan di seluruh penjuru buku ini. Selain tentang tragedi Oyster Boy, Burton juga menyajikan puisi-puisi jenaka seperti Stain Boy, ironi Voodoo Girl, dan Mummy Boy. Semuanya lengkap dengan nafas khas Burton. Oh, I got the book as a birthday gift from Vi. Thank you very much, dude!
Desa Kana sedang menanti musim panen. Namun seluruh penduduk desanya amatlah tegang. Datangnya musim panen berarti datang pula Nobuseri, kawanan bandit yang akan merampok beras mereka dan menculik wanita-wanita desa. Lelah hidup dalam ketegangan dan kesengsaraan akibat ulah Nobuseri, Tetua desa memutuskan untuk menyewa jasa samurai untuk melindungi desa mereka dari serbuan Nobuseri.
Maka berangkatlah Rikichi, Kirara, dan Komachi ke ibu kota propinsi untuk mencari samurai yang mau disewa dengan bayaran makan nasi gratis seumur hidup.
Kalau jalan cerita ini terdengar familiar, jangan heran. Anime ini memang diilhami dari film Seven Samurai karya Akira Kurosawa. Namun berbeda dari versi bioskopnya, anime ini terasa lebih menggigit. Pemilihan setting di masa depan dengan latar belakang kebudayaan Jepang di era jayanya samurai. Desain karakter yang menarik, animasi yang rapi, serta aksi memukau samurai versus mecha Nobuseri akan menghibur penggemar anime dari berbagai genre. Karakternya digali lebih dalam tanpa melupakan orisinalitas. Alur ceritanya lebih menarik, bersama dengan intrik politik yang membuat cerita menjadi utuh. Campur tangan politisi, perebutan kekuasaan, serta konflik kepentingan antar golongan membuat kisah Shimada Kambei dan kawan-kawannya menjadi lebih dari sekedar cerita heroik penyelamatan sebuah desa kecil di balik sebuah bukit.
Aria: Kazue Amano
kind: manga (books)
genre: drama/komedi
penerbit: m&c
jilid: 1-6 and on
Bosan dengan manga eksyen dan drama? Aria
bisa jadi pilihan Anda. Manga ini bercerita
tentang kehidupan sehari-hari Akira seorang
undine atau pendayung gondola, di sebuah
koloni manusia di Mars yang bernama Neo
Venezia. Akira selalu ditemani bos
perusahaannya dalam bekerja, yaitu kucing
bermata biru bernama Bos Aria. Bersama
teman-teman mereka, Akira dan Bos Aria
melalui hari-hari yang damai di Neo Venezia.
Meskipun jalan ceritanya cenderung datar, tapi
bukan berarti manga ini tidak akan
meninggalkan bekas setelah Anda selesai
membacanya. Momen-momen yang
menghangatkan hati, gambar-gambar lucu dan
indah menghiasi setiap halaman dalam manga
ini. Namun terus terang, manga ini adalah salah
satu manga yang paling sulit saya baca. Saya
baru berhasil menyelesaikan jilid pertama pada
kali keempat (3 kali sebelumnya saya tertidur
dengan sukses). So, if you're looking for a lazy
day under a tree, this is the perfect manga for
you.
Blink: Malcolm Gladwell
kind: book
genre: not familiar
penerbit: little brown
jilid: -
Berkediplah!
Satu hal yang harus saya katakan tentang buku ini adalah seandainya proses berpikir bisa disederhanakan secepat mengedipkan mata, tak terbayangkan betapa cepatnya dunia ini berputar.
Buku kecil ini seolah menjanjikan bahwa sebenarnya kita tidak perlu berpikir untuk membuat keputusan. Bahwa sebenarnya, alam bawah sadar kita tahu apa yang harus kita lakukan. Itulah yang menarik dari buku ini.
Sebagai orang yang dibilang dibesarkan dalam kultur logika, saya masih percaya bahwa kita perlu berpikir. Insting atau gut feeling, bagi saya, adalah manifestasi agregasi emosi yang tidak bisa dirasionalisasi, thus tidak dapat diandalkan.
Memang, kadang kala ketika kita dihadapkan pada suatu kondisi tertentu, gut feeling kita seolah mengatakan sesuatu pada kita, ada sesuatu yang salah. Padahal, ketika kita mengamati semua faktor dengan indera kita, tidak ada yang perlu dicurigai, semuanya berjalan dengan benar.
Haruskah kita mempercayai gut feeling kita?
Blink menyajikan tulisan mendalam tapi ringan mengenai kompleksitas logika berpikir alam bawah sadar; bagaimana kecepatan informasi itu diolah; mengapa kadang gut feeling kita salah; serta keputusan-keputusan besar apa saja di dunia ini yang dibuat berdasarkan gut feeling.
Buku ini cocok untuk orang-orang seperti saya yang sering kali berpikir ratusan kali sebelum mengambil keputusan sebelum akhirnya kembali kepada keputusan awal saya. Seringkali saya berpikir bahwa saya harus mulai memercayai gut feeling saya, tapi saya perlu alasan. Sekarang, Blink adalah alasan saya.
radang tenggorokan gw kumat. sebabnya bukan lain dan tiada tidak adalah (selain kondisi bodi gw yang enggak fit belakangan ini) adalah lokasi cubical gw yang nggak strategis. bayangin aja, bodi kecil begini dipaksa duduk di antara 2 AC.
jangan salahin gw dong kalo gw jadi sering minum tolak angin. namanya juga orang pintar! hehehehe ... tapi kemaren ini emang gw udah telat minumnya. abisnya gw pan puasa. ga mungkin gw nenggak tolak angin di siang bolong. akhirnya dua hari ini setiap pulang kantor gw langsung terkapar tak berdaya. semalem bahkan gw demam. brrrr ...
tapi hari ini udah mendingan. dan gw emang ga berencana buat macem2in nih bodi, demi besok gw berangkat ke jogja. mudig bo ... mudig!!! yang juga mo mudig ... selamat jalan, hati-hati di jalan. yang enggak mudig dari jakarta, titip Jakarta yo, rek ... jangan dibakar, jangan dibikin banjir!
eh, iya mina-san ... selamat idul fitri ya, buat yang merayakan. putsky mohon maap lahir batin.
. at
2:33 PM
|
Thursday, October 20, 2005
Posisi menentukan prestasi!
gw punya temen, si sapi, yang kerja jadi tukang desain kotak, punya kantor di tengah sawah. bener-bener di tengah sawah gitu. gw pernah ke kantornya yang nun jauh dari peradaban kota jogjakarta pas malem2. bener2 gelap, bo. ga ada penerangan gituh kecuali di komplek kantor dia. gw bayangin sejauh mata memandang, pasti cuma sawah doang yang keliatan. enak sih, udaranya pasti masih seger. tapi jauh dari toko kelontong ataupun snek. alah ... kalo gw udah mati aja kali yak ... gak ada snek darurat.
eniwei, kemaren pas kite lagi ceting tiba2 si sapi ini ga ngebales celoteh dan cemoohan gw. gw curiga dong, kenapa nih anak? apa tiba2 insaf gak mau menambah dosa? kayaknya gak mungkin banget. apa karena cemoohan gw kurang dahsyat sehingga dia gak mau ngebales? hmmm ...
gak lama ada sms dari sapi. ternyata, tak dinyana ... kantornya lagi diserbu tawon. ini bukan serangan pertama loh, dulu pernah jugak katanya tuh kantor diserbu tawon.
siput: "makanya loe punya kantor jangan di tengah sawah, dong."
sapi: "kalo kantor gw di tengah jalan bakalan lebih susah lagi, non!"
siput: "alah .. paling ketabrak doang, tapi kan nggak diserbu tawon."
sapi: "loe tuh kalo kasi ide gak guna."
siput: "bodo. yang penting punya ide."
lagian tuh yang punya ga punya otak apa ya? bikin kantor buat anak muda di tengah sawah gituh. mbok ya kalo bikin di tengah peradaban. deket mal, deket kafe, atau minimal ... mini market! lokasi yang strategis terhadap berbagai objek pemuas nafsu ini kan berpengaruh terhadap kinerja karyawannya! kalo laper tinggal jalan ke kafe, ga ada ide, ngeloyor ke mal, kalo mo ngemil ke mini market ... gitu kan harusnya!
sebenernya sih kalo soal ketidakstrategisan posisi kantor, kantor si sapi mah ga beda jauh ama kantor gw yang nyungsep di tengah2 kampung. kalo gw ngasih petunjuk arah ke kantor gw, sering adanya gw yang pusing sendiri. gak jarang taksi males dipanggil ke kantor gw, karena supirnya ga tau jalan. korban terakhir dari posisi kantor gw yang sulit dilacak di peta ini adalah delivery-man dari pizza hut. setengah jam dia dari toko ke kantor gw, naek motor. padahal gw cuma butuh lima belas menit ke tokonya, naek angkot, make ngetem ... mana kalo udah malem tuh, yang namanya angkot cuma ada sampe jam setengah delapan malem. kalo pulang lewat dari jam segitu, pilihan buat melarikan diri dari tengah kampung ya cuma nebeng yang bawa mobil atau ngojek.
ngomong2 soal mobil, mr. babe, bos gw yang baik hati, tukang nraktir, tapi sering ga nyambung ma gw, baru aja dapet mobil baru dari kantor. escudo jebotnya itu akhirnya diganti dengan vios item. tapi beliau yang mulia masih aja ngomel, gara2 escudo-nya ditake-over setelah dia betulin make ongkos dia sendiri ....
nah, berhubungan juga dengan viosnya itu, hari rebo kemaren gw iseng diajakin ke citos ama mr. babe. gak jelas apa alesannya. mungkin berkaitan dengan proposal buku-buku yang belon jugak gw bikin, atau presentasi produk yang enggak gw kerjain, atau buku2 jerman yang teronggok tak tersentuh di atas meja gw?
.... hmmm utang kerjaan gw banyak jugak ya? ...
pokoknya kite (gw, side-kick gw: maya, mbak ika, wibi, udin, sama mr. babe) pergilah citos sore itu naek vios dalam acara "Buka Puasa Bersama" (judul yang kurang tepat, karena pas hari itu yang buka puasa cuma udin sama mr. babe). sebenernya restoran pilihan babe udah penuh gitu dan terpaksalah kite dapet tempat duduk yang enggak strategis. gw ama maya kudu duduk terpisah, ibarat dua anak tiri yang dibuang dari kumpulannya. sembari menyesali posisi kita, maya toleh kanan, toleh kiri .... tebak apa yang dia temukan!!!!
ada Tora Sudiro di sebelah (samping kiri gw agak belakang) meja kita!
hihihihihi
nggak penting banget ya? ... paling enggak nggak penting buat gw, sih. abisnya tiap saptu ama senen jugak udah liat molo di tipi. --> enggak penting kok diomongin ...
eniwei, karena adanya mas Tora itulah acara hari itu berubah menjadi "Dinner with Tora Sudiro" --> kalo Tora-nya baca heran kali ya, kapan gw pernah duduk sebelahan (samping kiri gw agak belakang) meja ama keong?