Sabar ... lagi loading. colors outside the lines

Saturday, January 01, 2005

survival of the psychos

Alkisah adalah seorang temen gw yang terheran-heran ketika ada seorang mantan praktikan gw mendeskripsikan gw sebagai asisten yang kalem.

so?
Permasalahannya, meskipun gw ini asisten yang ramah dan baik hati, kalem jelas bukan kata yang tepat untuk menggambarkan kepribadian gw. Meriah, ribut, rese, dan rusuh mungkin lebih pas.

kalem? kalem dari Hongkong!!!

"guru, mohon petunjuknya!" begitu temen gw berujar.
"belok ke kiri trus jalan 15 meter. naik T12 sampe kampung rambutan trus ganti 605." kata gw sambil ngenyot cupacup.
"maksutnya, gimana caranya lu menyembunyikan jiwa liar lu dari masyarakat! how can a psycho like you fit in to the society and gain 'calm' as a reputation?"

Waktu kuliah, gw emang terkenal agak nyentrik dengan segala kegemaran gw pada produk anime dan manga. Gw pernah dituduh menyebabkan wabah komik Hikaru no Go di kampus dan dipelototin praktikan waktu gw bikin pre-test praktikum merujuk skenario pembunuhan dengan tokoh utama Conan Edogawa ^^|.

psycho? eksentrik mungkin lebih pas. tapi baiklah, i'll take that as a compliment.

Mata gw langsung menerawang, kenyotan cupacup gw terasa agak hambar ketika gw mulai mencerna pertanyaan temen gw itu lebih dalam. bukan masalah bagaimana gw nyentrik ini bisa fit-in, tapi apakah menjadi nyentrik begitu menakutkan sampe2 temen gw merasa kudu berguru sama gw?

Selama ini sel-sel otak gw selalu menterjemahkan bahwa penghargaan terhadap sebuah jiwa adalah karena mereka berbeda, bukan karena mereka memiliki sebuah uniformitas atau seragam dengan jiwa yang lain. Uniformitas adalah sesuatu yang datar dan monoton. Uniformitas adalah sesuatu yang tidak istimewa, tidak perlu dibesar-besarkan, dimana-mana juga ada. Ibaratnya membandingkan uniformitas bakso yang seragam di seluruh pelosok indonesia dengan cotto makassar. Cotto makassar lebih menarik dari sekedar bakso kan? Sesederhana itu. Lalu kenapa temen gw ini kudu takut menjadi berbeda?

Karena sayangnya, dunia yang nyata tidak dibentuk dalam kerangka keunikan seperti itu. Bakso lebih dipilih karena rasanya yang standar, uniform. Uniformitas yang menjadi pokok utama stabilitas, menjadi lebih agung dari keunikan yang sebenarnya merupakan pokok utama dari perubahan.

Dari sejak tahun nol (atau bahkan sebelum itu), segala sesuatu yang berbeda disebut sebagai 'tidak normal' atau tidak baik. Ajaran atau budaya yang berbeda dari yang populer disebut sebagai menyimpang dan sesat. Inilah yang membuat para nabi dan orang-orang jenius di masa lampau dikucilkan karena dicap sebagai orang bidah karena memiliki pemikiran yang berbeda dari paham yang lebih populer pada masa itu.

Orang-orang pada masa itu belum menyadari pentingnya arti perbedaan. Ide yang berbeda dianggap mengganggu stabilitas, menimbulkan kekacauan, akibatnya berbeda menjadi sesuatu yang tabu, sesuatu yang jelek. Padahal lewat perbedaanlah seseorang bisa memperoleh sudut pandang yang lain, ide-ide baru, bahkan berkembang dari kritik akibat adanya perbedaan. Dalam utopia masa depan Brave New World-nya Aldous Huxley yang mengagungkan uniformitas pun, manusia masih dibedakan secara unik dalam kasta untuk mempertahankan stabilitas. Setiap anggota kasta memilki sifat dan tingkat kecerdasan yang berbeda sehingga antarkasta mampu saling melengkapi, membentuk suatu kesatuan. Kesatuan yang terbentuk di sini mirip sekali dengan rantai ekologi yang menggambarkan berbagai spesies berbeda saling melengkapi untuk menjalankan fungsi kelangsungan hidup di bumi. Jelas nampak bahwa perbedaan sendiri sebenarnya menyokong stabilitas. Perbedaan adalah hal yang sebenarnya membuat dunia ini mampu terus berjalan.

Sayangnya, nggak banyak orang yang berpikir seperti itu. Kehidupan sosial manusia saat ini rasanya sangat tepat dianalogkan dengan jargon teori evolusi Darwin, "Survival of the fittest." You don't fit, you will perish. Wajar aja kalo temen gw merasa dirinya harus fit-in. Perbedaan benar-benar telah menjadi sebuah dosa, a sin. Gw bukan orang pertama dan jelas bukan satu-satunya yang merasa begini.

when you live in a cookie cutter world, being different is a sin. so you don't stand out. but you don't fit in. weird. ~Weird-Hanson~

Sin? Mankind now dare to play God. What low-lives.

Sebenernya bukan soal buat gw apakah perbedaan itu penting atau enggak buat dunia (please, i'm not that noble). Gw adalah tipe manusia Homo sapiens sejati dengan segala ekstra egonya. Yang lebih penting buat gw adalah gimana gw bisa jadi diri gw sendiri apa adanya. Hidup gw ini cuma sekali. Sia-sia banget rasanya kalo masa inap yang singkat ini cuma diabisin buat usaha-usaha sinting biar bisa fit-in dalam sebuah dunia yang nggak sempurna.

"jadi?" tanya temen gw.
"apanya?" gw balik nanya sambil ngebuang stik cupacup ke tempat sampah.
"gimana caranya?"
"for psycho's like us to fit-in??"
Gw memandang matahari sore yang kekuningan. Cahayanya hangat sekali di kulit, menantang masa depan.

.. hhh .. persis kayak adegan sentai Google V.
Sebenernya gw ngerasa lebih mirip adegan pemimpin sekte lagi ngasih wejangan ke pengikut setianya (kebanyakan baca Dan Brown ^^|).

"incase you don't know, psychos like us will never fit-in anywhere. it may seems that some of us do fit-in, like me. but actually we never did,"
I owe my so called genious brain for all the camuflages i've made around myself then.

"but i wouldn't worry about fitting in if i were you,"
We don't have to. Afterall, world's greatest thinker, philosphers, the real people that built this world are psychos.

"others will have to fit in to us someday."

that's how we, the psychos, will survive.

footnotes: psychos disini tidak merefer pada orang gila tapi pada 'orang gila', seperti anda dan saya :P

. at 5:41 PM

|